Skip to main content

Bercerita Tentang Bogor Melalui Museum

Koleksi Museum Perjuangan, Bogor di Lantai 2.
Photo by: Nokia C3 Rucitra Deasy

Salah satu koleksi pakaian kolonial di Museum Perjuangan, Bogor.
Photo by: Nokia C3 Rucitra Deasy
Salah satu koleksi di Museum Etnobotani, Bogor.
Photo by: Cannie. Taken by Astrid Tanaya
  • Museum Perjuangan: Jl. Merdeka No. 56 Telp. (0251) 8326377. Jika kamu dari stasiun kamu sedikit berjalan pun bisa letaknya tidak terlalu jauh. Arahkan kakimu ke arah jalan merdeka patokan umum adalah Pusat Grosir Bogor. Letak museum ini tepat di depan Pusat Grosir Bogor. Jika hendak menaiki kendaraan umum naiklah angkutan umum bernomer 07 ke arah Mawar dan berhenti di pertigaan Toko Nusantara dan berjalan lurus sedikit. Tiket masuk: Rp. 2000,-
  • Istana Bogor: Jl. Ir. H. Juanda No. 1 Telp. (0251) 8321001. Jika kamu dari arah stasiun Bogor kamu bisa menikmati dengan berjalan kaki menuju Istana Bogor. Namun, jika melalui kendaraan umum silahkan menumpang angkutan bernomor 02. Jika dari arah Terminal Baranangsiang silahkan menumpang angkutan umum bernomor 03. Istana sulit dimasukki oleh masyarakat umum kecuali jika sedang open house pada hari ulang tahun Bogor pada tanggal 3 Juli. Tiket masuk: gratis.
  • Museum Etnobotani: Jl. Ir. H. Juanda No. 24. Letak museum ini terletak persis di depan Istana Bogor. Jadi ikuti petunjuk yang kuberikan tadi. Museum ini cukup sulit ditemukan karena museum ini terletak di pintu samping gedung Herbarium Bogoriense kamu bisa melihat papan Museum Etnobotani. Namun, jangan khawatir museum itu tetap ada. Ketika memasuki pintu gerbang gedung Herbarium Bogoriense berjalanlah ke arah kanan hingga kalian menemukan jalan setapak yang terbuat dari batu ke arah samping gedung ini. Disitu ada pintu kaca. Yakinlah, itu Museum Etnobotani meski sepi, tak ada yang menjaga, dan pintunya tertutup. Buka saja pintu itu dan dengan sukarela menulis pada buku tamu. Tiket masuk: gratis.
  • Museum Tanah: Jl. Ir. H. Juanda No. 98 Telp. (0251) 8323012. Museum yang berisi jenis contoh tanah yang terdapat di Indonesia yang disajikan dalam ukuran kecil berupa makromonolit ini didirikan pada tanggal 29 September 1988. Jika kalian hendak mengunjungi museum ini dari Stasiun Bogor kalian harus naik angkutan umum bernomor 10 atau 02 arah Sukasari kemudian berhenti sebelum pintu utama Kebun Raya Bogor kalian bisa bertanya disitu dimana letak Museum Tanah karena tidak ada papan nama. Tiket masuk: -
  • Museum PETA: Jl. Jend. Sudirman No. 35 Bogor Telp. (0251) 8332768. Museum yang diresmikan pada tahun 1995 oleh Yayasan Perjuangan Tanah Air ini didalamnya memuat 14 diorama mengenai perjalanan perjuangan para pahlawan PETA dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Dahulu ketika aku masih di sekolah dasar sekitar 12 tahun yang lalu diorama-diorama ini masih bisa digerakkan dan bersuara apabila kita memasukkan koin dengan nominal tertentu. Namun, kini diorama tersebut sudah tidak berfungsi sungguh sangat disayangkan. Padahal adanya interaksi pengunjung dengan koleksi menambah rasa tertarik pengunjung pada museum. Jika hendak ketempat ini dari arah stasiun naiklah angkutan umum bernomor 12. Jika dari arah terminal naiklah angkutan umum bernomor 03 dan berhenti di pertigaan Jalak Harupat kemudian menyebrang dan sambung angkutan umum 12. Jika ingin masuk ke museum ini setahu aku harus bersama rombongan minimal 10 orang. Jika tidak kalian ikut saja rombongan yang kebetulan sedang berkunjung. Tiket  masuk: sekitar Rp. 1.500,-
  • Museum Zoologi: Jl. Ir. H. Juanda No. 9 Telp. (0251) 8322226. Museum yang didirikan tahun 1894 dengan nama awal Museum Zoologicum Bogoriensis ini memiliki ribuan spesies binatang mamalia, serangga, reptilia, burung, ikan dan molluska. Jika hendak datang kemari ikuti saja petunjuk ke arah Museum Tanah. Namun, kini untuk masuk kedalam Museum Zoologi pengunjung wajib masuk dahulu ke dalam Kebun Raya Bogor baru bisa mengunjungi Museum Zoologi. Tiket masuk: Rp. 9.000,-

Terik matahari yang menyengat pukul 10.00 itu tak menyurutkan semangat keponakanku untuk menagih janji. Aku menjanjikannya untuk pergi mengunjungi museum. Anas nama keponakanku, kala itu aku berjanji karena ingin memperkenalkan padanya museum. Dunia museum yang bisa dikatakan cukup identik dengan dunia yang sedang kupelajari yaitu dunia arkeologi. Museum menjadi bagian dari arkeologi karena pada museum lah koleksi-koleksi arkeologi sepantasnya disimpan untuk diperkenalkan pada publik.
Pada hari Sabtu itu aku dan keponakanku yang berumur 6 tahun pergi mengunjungin museum. Museum Perjuangan namanya. Terletak tidak jauh dari sekolah SMA ku dulu yaitu SMA Negeri 9 Bogor. Baik SMA ku dulu maupun bangunan museum ini sangat tua. Dibangun ketika abad 19 lebih tepatnya sekitar tahun 1879. Museum yang terletak di Jalan Tjikeumeuh No. 28 ini memang memiliki arsitektur sederhana khas kolonial dengan tiang-tiang sederhana yang tidak memiliki dekorasi raya pada tiangnya. Namun, alamat yang kuberikan diatas tadi tak akan ditemukan lagi sekarang, karena sejak tahun 1960 nama jalan letak Museum Perjuangan tersebut berubah menjadi Jalan Merdeka No. 56.

              Awalnya museum ini didirikan pada bulan Juli 1879 oleh Wilhelm Gustaff Wissner seorang pengusaha Belanda. Museum ini berulangkali berganti kepemilikkan. Namun ketika pada Juni 1938 gedung ini beralih fungsi menjadi Gedung Persaudaraan “PARINDRA” atau Partai Indonesia Raya suatu partai politik yang berdasar pada nasionalisme Indonesia dan menyatakan tujuannya adalah Indonesia Mulia dan Sempurna untuk cabang Bogor sebagai bank simpan pinjam dan lain-lain. 


Waktu pun bergulir fungsi dari gedung inipun terus beralih. Akan kuceritakan beberapa alih fungsi gedung ini hingga sekarang dapat berdiri kokoh di tengah kemewahan gedung-gedung tinggi disekitarnya. Pada 9 Maret 1942 gedung dijadikan gudang oleh tentara Jepang yang kemudian direbut kembali oleh para pejuang pada 17 Agustus 1945 ketika semangat para pemuda berkobar karena dideklamasikan oleh Bapak. Presiden Soekarno bahwa Indonesia telah merdeka. Gedung ini kemudian dijadikan kantor Komite Nasional Indonesia daerah Bogor, lalu BP3, Markas Pejuang daerah Bogor, Kantor perjuangan Dewan Perjuangan Karesidenan Bogor, dan Laskar Rakyat Bambu Runcing dan Para Pejuang Pemuda.
Namun, Kawan, gedung ini pun direbut kembali oleh sekutu pada Februari 1946. Pada 1948 – 1949 kemudian gedung ini digunakan untuk kegiatan Gabungan Serikat Indonesia (GABSI) yang dipimpin oleh Priyatna. Datanglah tanggal 3 Agustus 1949 di waktu ketika terjadi gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia, lalu gedung ini digunakan sebagai kantor tetap Pemerintahan Darurat Kabupaten Bogor, KMDJ Bogor, juga digunakan sebagai Sekolah Rakyat (SR) No. 34, yang kemudian di siang hari digunakan sebagai SMP SMAURIL ADJREM yaitu sekolah dengan ijazah penyesuaian para siswa yang teridiri dari pemuda pejuang yang akan bergabung dengan TNI atau POLRI hingga tahun 1952.
Pada 16 Desember 1953 gedung ini kemudian dimiliki oleh Umar bin Usman Al-Wahab dan tetap berfungsi sebagai Sekolah Rakyat. Kemudian pada 17 Maret 1958 gedung ini yang memang masih dimiliki oleh Umar bin Usman Al-Wahab  diserahkan penuh oleh Pembantu Utama Pelaksana Kuasa Perang Daerah KMS Bogor kepada Yayasan Museum Perjuangan dan sekolah rakyat (SR) dialihkan ketempat lain meski atas kepemilikkan Umar bin Usman Al-Wahab. Lalu, pada 20 Mei 1958 gedung ini dihibahkan penuh oleh Umar bin Usman Al-Wahab kepada Yayasan Museum Perjuangan Bogor dengan Akte Notaris J. LL Wonas di Bogor.
Beberapa bulan berselang yaitu tanggal 10 November 1958 pada peringatan hari pahlawan pada pukul 08.00 wib gedung ini secara resmi dibuka oleh Ibu Kartinah TB Muslihat istri dari almarhum Kapten TB Muslihat. Sekarang kau bisa melihat pahlawan TB. Muslihat pada sebuah taman hiburan bernama Taman Topi sebagai patung. Selain sebagai patung Bapak Kapten Muslihat ini juga dikenang dengan menjadikan namnya pada sebuah jalan di daerah merdeka, Kawan. Kemudian peresmian pembukaan gedung tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Pelaksana Kuasa Militer Daerah Res. Inf 8/III No. Kpts/3/7/PKM/57. Cerita mengenai gedung ini dijadikan sebuah museum diprakarsai oleh Bapak. Mayor Ishak Djuarsa yang kemudian diresmikan kembali oleh Kolonel RA Kosasih seorang Panglima TT III Siliwangi.
Mengapa museum ini dibangun tentu memiliki tujuan. Orang Bogor pasti ingin tahu mengapa museum yang kini terlihat suram ditengah-tengah hingar-bingar bangunan moderen disekelilingnya masih tetap berdiri. Ini berkat kegigihan orang-orang yang masih peduli akan sejarah, Kawan, jika tidak mungkin kalian tidak mengerti rasa sulitnya memperjuangkan Indonesia. Kalian kini tinggal menikmati buah perjuangan mereka, kawan. Tujuan didirikannya Museum Perjuangan Bogor ini setidaknya ada lima. (1) Pertama para pendiri ingin memupuk dan memelihara semangat Revolisi 17 Agustus 1945, serta mewariskan semangat Proklamasi Kemerdekaan kepada generasi penerus. (2) Kedua rasa patriotik dan heroik (kebangsaan dan kepahlawanan) sebagai monumen nasional yang hidup untuk mengenang para pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia. (3) Sebagai alat pendidikan sejarah kepada masyarakat terutama kepada generasi muda. (4) Pembuktian dalam dalam sejarah tentang adanya mata rantai dari masyarakat Karesidenan Bogor pada masa kemerdekaan. (5) Menjadi salah satu tempat penyampaian kepada masyarakat tentang keberadaan benda-benda kebudayaan yang dipergunakan oleh para pejuang pada masa kemerdekaan.
Nah, Kawan, ada sedikit cerita menarik yang kudapatkan dari seorang pemandu dan satu-satunya pemandu yang kutemui tiap kali aku datang. Takkan kusebutkan namanya. Pemandu ini mengatakan bahwa gedung inilah tempat pertama kali di deklarasikan rencana untuk memproklamirkan kata merdeka. Seperti yang kita tahu dan mungkin percaya dari apa yang kita dapatkan dibuku sejarah SMP dan SMA bahwa perencanaan proklamasi terdapat di Rengasdengklok dan bukannya di Bogor. Perumusan naskah proklamasi pun seperti yang kita ketahui dilaksanakan di rumah Laksamana Maeda seorang Jepang yang simpatik pada bangsa Indonesia. Ya, Kawan, mungkin itu salah satu kekuatan sense of belonging sang pemandu untuk membantu nilai sejarah gedung ini dan Kota Bogor tentunya. Kalau aku memilih untuk tidak percaya pernyataan tersebut. Mungkin Anda ada yang setuju? Karena mungkin tidak terekam oleh sejarah bahwa ternya di Bogor lah tempat pertama kali direncanakannya sebuah proklamasi. Kita takkan pernah bisa kembali ke waktu itu, Kawan, itulah sejarah.
Nah, Kawan, sebagai pengunjung yang sedikit belajar mengenai museum dan sedikit mengetahui kesuksesan museum di luar negeri dengan harga tiketnya yang menjulang tinggi namun pengunjungnya tetap membludak. Aku ingin memberitahukan bahwa dari salah satu contoh museum yang aku datangi ini yaitu Museum Perjuangan juga semua museum di daerah Bogor yang sudah aku kunjungi secara langsung seperti Museum Zoologi, Museum Etnobotani, Museum Tanah, Museum PETA (Pembela Tanah Air), dan Museum Istana Bogor (meski yang terakhir tak dapat disebut sebagai museum umum). Sedikit yang kurang adalah mengenai tata pamer dan kajian koleksi. Entah mengapa dari kesemua museum ini mereka belum memaksimalkan koleksi yang mereka miliki.
Sebagai contoh yaitu Museum Perjuangan, museum ini memiliki beragam koleksi senapan yang digunakan para pejuang kemerdekaan dan terdapat koleksi senapan yang merupakan hasil rampasan dari tentara Inggris dan Jepang. Juga senjata tradisional yang digunakan oleh rakyat Indonesia seperti bambu runcing. Selain koleksi senjata museum ini memiliki koleksi diantaranya surat kabar-surat kabar pada masa perjuangan, selebaran-selebaran larangan keluar rumah dan selebaran pengumuman lainnya,
Akan kucoba deskripsikan tata letak koleksi museum ini. Memasuki pintu utama pengunjung akan disambut senapan berat berukuran besar di kanan dan kiri. Ruangan persegi panjang ini kemudian terbagi menjadi dua lorong yang terpisah oleh fitrin koleksi surat kabar yang berada ditengah ruangan, lorong kanan dan lorong kiri, lorong kanan berisi koleksi senjata-senjata.


Untuk ikut memajukan museum di daerah Bogor yang kini bisa aku persembahkan adalah membuat tulisan ini agar semua orang yang membaca tahu bahwa Bogor memiliki beberapa museum yang memiliki koleksi yang layak dihargai keberadaannya. Namun, koleksi tersebut kurang dimanfaatkan, padahal museum-museum ini menjadi salah satu andalan Visit West Java 2010-nya kota Bogor yang dicanangkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Bogor. Bukankah sebaiknya sebagai andalan pariwisata pemerintah sedikit meningkatkan kelayakkan suatu museum. Apalagi museum-museum ini tidak dipromosikan dengan baik apalagi difasilitasi dengan baik. Sampai sekarang saja gedung-gedung unik yang kuno itu masih tak kelihatan rimbanya. Maksud saya papan nama di depan museum itu saja tidak ada, Kawan, ini kulihat di Museum Etnobotani dan Museum Tanah. Aku jamin banyak yang tak tahu bila ditanya dimanakah Museum Etnobotani dan Museum Tanah, bahkan Museum PETA yang besar itu saja juga tak dengan jelas tertulis MUSEUM. Ya, kawan, hal sederhana saja kurang diperhatikan. Dan yang aku tahu konon katanya tahun 2010 kemarin itu adalah Visit Museum-nya Kota Bogor namun aku tak melihat perubahan pada museum-museum di Kota Bogor.
Berikut aku berikan alamat dan arahan menuju museum – museum ini juga harga tiket:

Comments

Popular posts from this blog

Kukar yang Mengakar

Terbang jauh ke Pulau Kalimantan, bukan pertama kali tapi selalu berkesan. Mendarat di Balikpapan menyebrang ke Samarinda hingga berkelana ke Kutai Kartanegara. Dua kota, satu kabupaten, dalam satu waktu. Itu rute yang ditempuh untuk mencari akar sejarah bangsa. Lebih tepatnya, akar sejarah agama Hindu di Indonesia. Kukar, mereka menyederhanakan kabupaten bernama Kutai Kartanegara. Kukar yang Mengakar Saat itu, sekitar 300-an Masehi, cukup “jauh” dari tahun 2019. Kira-kira 1719 tahun yang lalu berdirilah satu kerajaan Hindu di Kutai. Raja pertamanya bernama Kudungga. Ia memiliki cucu yang bernama Mulawarman. Generasi ketiga dari Sang Kudungga itu meninggalkan tugu peringatan. Tugu itu diberikan oleh para Brahmana, sebagai “penanda” sifat kedermawanan Sang Mulawarman. Yupa ke 8, tak bisa sembarangan kita mengunjungi Yupa tersebut bahkan ketika didampingi oleh penjaga Yupa. Tugu yang dihadiahkan dari para Brahmana itu kini seolah menjadi akar sejarah. Sejarah mengen...

Buku Harian Merah, 27 Juni 2011: Hidden Paradise, Ona Ra

I can't take a good shoot of the beautiful Ona Ra. So, here is the best picture that show how beautiful Ona Ra is. Since I shoot it with my broken lenses. Sorry of my lame excuse. Hoho. By. Kamera Samsung Ringsek Rucitra Deasy Hari Senin tiba! Senin ini kegiatan diisi dengan ber-Rumah Kreatif dan sore hari kami menelusur hingga ke ujung pulau dan bertemu Ona Ra yang indah. Pagi hari kami belajar, bernyanyi, membaca, menggambar di Rumah Kreatif dari pukul 09.00 hingga pukul 15.30. Saya dan beberapa teman yang sedang piket menjaga Rumah Kreatif merapihkan RK pagi di hari Senin sebelum membuka Rumah Kreatif. Saya melabeli buku-buku yang kami bawa dari kampus. Juga mengajarkan para kader yang nantinya akan meneruskan kegiatan RK sepeninggal kami untuk melabel. Dan, mereka teramat sangat terampil dan pintar.

Gong Pancasan: Kisah Nyata Keberlangsungan Sejarah

Take a short break from writing the series of Buku Harian Merah, here is another writing that I write after a short and nice visit to Gong Pancasan for my college assignment. It might lack from good but here what I got after an interview with the owner and next owner. Dentuman besi pukul 06.00 pagi sudah riuh terdengar dari Pabrik Gong Pancasan atau sering disebut Gong Factory . Pabrik Gong Pancasan merupakan sebuah kenyataan sejarah yang berlangsung hingga kini. Sungguh tidak banyak dijumpai di masa kini keberadaan dari sebuah kenyataan sejarah yang berlangsung lama dan berkesinambungan seperti yang terjadi pada Pabrik Gong Pancasan di Kota Bogor. Pabrik Gong yang sudah ada sejak 200 tahun lalu ini terletak di Jalan Pancasan No. 17, Bogor Selatan, Jawa Barat. Pabrik gong satu-satunya di Jawab Barat ini merupakan sisa-sisa dari rangkaian panjang sebuah peradaban, sebuah benda yang dekat dengan rakyat Indonesia, sebuah benda yang dibawa beratus tahun lalu ke masa kini itu menjadi ...